Attitude rules !!

Saat saya mengerjakan Tugas Akhir (baca : skripsi), banyak buku-buku teori pendidikan yang saya masukkan. Sebenarnya teori dari dalam negeri itu cukup, tapi karena mungkin saya orang yang perfectsionis , membuat saya harus lagi-lagi googling mengenai pendidikan di luar negeri.

Saya penasaran, kenapa kurikulum di Indonesia begitu padat dengan materi, sementara di luar negeri siswa hanya disuguhkan oleh beberapa materi. Lalu ada juga pelajaran seperti kewarganegaraan, atau agama tidak sama sekali diajarkan di luar negeri. Kalo agama, ya mungkin mengenai keyakinan, negara luar (apalagi Amerika) lebih demokratis mengenai hal itu. Lalu bagaimana mengenai Kewarganegaraan? Bukankah nasionalis itu perlu ditanam sejak dini? Bahkan saya memahami sekolah-sekolah reguler setiap Senin selalu ada Upacara Bendera, karena nasionalis tentunya. Lalu kenapa di tanah mereka tidak? Bukankah rasa cinta terhadap tanah air harus ditumbuhkembangkan selagi belum ada isme-isme lain yang masuk?

Saking penasarannya, saya sampai rela jauh-jauh ke toko buku (ga jauh banget sih, naik angkot sekali aja, hehee), hanya untuk mencari pilar pendidikan yang sebenarnya. Ada buku-nya Thomas Hubbes yang berpandangan pendidikan dari sudut filsafat politik dan empirisme-materialisme, atau Alvin Toffler yang lebih ke science terutama revolusi teknologi-nya. Saya tidak menemukan jawaban yang pas di hati atas pertanyaan saya.

Lalu iseng-iseng saya menonton film Three Idiots. Film karya anak India ini adaptasi dari novel yang berjudul Five Point Someone , berhasil membuat saya menemukan jawaban yang sesungguhnya. Film ini dikemas dengan komedi yang epic, tidak terlalu berat, tidak banyak mengandung unsur politis, bahkan untuk film edukasi, tidak terlalu mengandung unsur pendidikan secara tersirat, tapi saya mampu menemukan makna dari pendidikan yang sebenarnya yaitu MORAL.

Jelas sekali film tersebut menampilkan 2 sosok berbeda (tentunya protagonis dan antagonis). Si antagonis menjadi mahasiswa favorit hampir di semua dosen, ia mampu menghafal, bahkan mengerjakan soal-soal ujian dengan baik. Bahkan kadangkala ia melakukan berbagai cara untuk mendapat nilai maksimal, sebut saja cara mencontek. Lalu bagaimana dengan si protagonis?

Ia tidak pernah menghafal, ia memahami setiap materi yang diberikan, diolahnya di dalam otak, lalu dikeluarkan ke jawaban ujian, meskipun itu hasil darinya. Dosen maupun staff pengajar lain tidak suka terhadap dirinya yang seringkali membangkang teori-teori perkuliahan (padahal ada benarnya), bahkan di akhir cerita, si protagonis itu kuliah bukan untuk dirinya, tapi untuk anak seorang raja yang ingin mendapatkan ijazah cuma-cuma. Singkat cerita, protagonis mau ilmunya aja.

Epilog dalam film tersebut, si antagonis bekerja pada seseorang kaya raya, yang punya hampir 400 hak paten perusahaan. Antagonis jelas sangat penjilat, ia sangat menghargai orang kaya, atau yang punya andil. Lalu ia bertemu dengan si protagoni yang hanya jadi seorang guru. Fakta sangat mencengangkan terbukti bahwa, bos si antagonis, yang punya hampir 400 hak paten perusahaan, ternyata adalah si protagonis.

Nah, dari sana saya bisa mengambil kesimpulan, sebenarnya letak perbedaan pendidikan negara Adidaya dengan negara kita adalah MORALITAS. Banyaknya pelajaran dalam kurikulum Indonesia sebenarnya membuat siswa makin lama tertekan, sehingga keluar sikap egoisme mereka, dari situ guru-guru dapat membentuk sikap yang seharusnya dipunyai oleh seorang guru. Karena bagaimana mau membentuk sikap, jika sikap aslinya saja kita tidak tau.

Tapi setiap eksperimen itu seringnya gagal dan jarang sekali berhasil. Yap, mungkin sudah jadi wacana umum bahwa kurikulum di Indonesia sudah ketinggalan jaman. Saya sebagai calon guru-pun tidak bisa berkata tidak. Kita terlalu mengikuti budaya, tanpa tau bahwa anak jaman sekarang jelas berbeda dengan jaman dulu, sudah pasti dengan pola pendidikan yang sama, bukan berarti akan berhasil sama juga.

Saya berharap, jika nantinya akan ada perubahan kurikulum besar-besaran, jangan sampai menghilangkan nilai moral dalam pendidikan, karena hal tersebut lebih penting dari ilmu pengetahuan atau keterampilan lain. Terbukti merajalelanya korupsi, itu adalah hasil pendidikan moral yang gagal. Memangnya yang korupsi itu lulusan SD? Mereka s3 bahkan ada yang profesor. Nah, jelas kan, ilmu dan keterampilan tidak menjamin moral seseorang.

Yap, sekarang kembali lagi ke masing-masing individu. Karena menurut saya, percuma anda berpendidikan tinggi, bisa beretorika di hadapan orang-orang penting, dihargai oleh petinggi-petinggi negeri, tapi tidak bisa menjaga sikap serta tutur katanya. Dari kecil diajarin sopan-santun bukan? Karena itulah identitas Indonesia yang sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s