He’s Just My Only One Brother

Waktu saya makan es krim sendirian di depan Borma (belakangan ini saya sering melakukan hal itu), saya duduk termenung meratapi sedikit nasib saya yang lari daripada semestinya. Merenungkan kenapa saya begitu tertinggal dari skripsi yang seharusnya usai bersamaan dengan teman-teman saya. Lalu saya jadi teringat, sekitar kurang lebih 5 tahun yang lalu, kakak saya berkata “Ya nikmati aja kuliah, gudang ilmu.”

Tidak saya sangka dan duga, bahwa hal itu saya alami saat ini. Waktu itu saya masih berseragam putih abu-abu, dan dengan semangat anak baru, saya bertekad kuliah tidak lebih dari 4 tahun, tidak ingin seperti kakak saya. Tapi ternyata, sebuah kelulusan bukan ditentukan dari keberuntungan, tapi dari usaha, kerjakeras, dan terutama pilihan.

Ya memang benar, pilihan saya lebih memilih untuk stop mengerjakan final exam saat ini. Pilihan saya untuk melakukan hal lain, yang menurut saya lebih menyenangkan sekaligus tantangan.

Tapi memang orangtua selalu ingin melihat anaknya berhasil menurut sudut pandangnya. Tidak pernah berhenti Ibu saya selalu menanyakan hal yang sama setiap bertukar pesan singkat. Lalu Bapak saya yang selalu meledek jika saya berbicara hal lain selain skripsi. Lalu kepada siapa saya bercerita? Tentu saja, disitulah peran ‘my only one brother’ yang selalu membalas pesan singkat saya, meskipun pesan itu sama sekali tidak penting menurutnya.

Saya jadi teringat kenangan ketika bersamanya sewaktu kecil dulu. Usia kami memang terpaut agak jauh, 6 tahun untuk sepasang kakak adik yang selalu saling berkelahi kecil. Dari berebutan remote tv (dia ingin menonton dragon ball, dan saya sailormoon), lalu iri minta sepatu baru (dia sepatu bola, dan saya sepatu roda), sampai hal ingin makan apa (saya ingin ikan lele, sedangkan dia trauma makan ikan lele)

Tidak jarang, saya sangat kesal dengan kakak saya, entah kenapa, dia jadi Mister Paling Nyebelin Sedunia sewaktu masih 1 atap dengan saya. Lalu keadaan berubah drastis ketika dia tiba-tiba diterima di salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta. Pada waktu itu dipikiran saya, Tv akan saya kuasai penuh, saya akan dengan leluasa minta apapun pada orangtua, dan makan apa saja yang saya mau. Tapi setelah ia pergi, jreeeeeennnggg, keadaan berubah 180 derajat. Ternyata tidak semenyenangkan itu.

Saya perlahan tumbuh menjadi gadis yang sangat pro aktif. Sangat menyukai organisasi, sangat lincah dan agresif untuk ukuran anak SMP, kalau 1 sekolah belum mengenal saya, saya belum puas. Kebiasaan saya pulang sore hari (untuk kelas SMP, sore itu sudah terlambat pulang banget), sering saya lakukan selama saya SMP. Untuk berkegiatan pastinya. Tapi entah kenapa, ketika ada kakak saya di rumah, tiba-tiba saya tidak mau melaksanakan kegiatan rutin itu. Dipikiran saya, saya hanya ingin cepat pulang, sampai rumah, dan kembali rutinitas dengannya.

Ketika saya pulang dari sekolah, dan ia kebetulan pulang dari tempat perantauannya, saya suka sekali menghabiskan waktu dengannya. Nonton film sampai pagi buta. Bercerita tentang apapun.

Bahkan saat lebaran, keluarga saya suka sekali berlibur. Karena jumlah keluarga kami 5 orang, otomatis kami sering menyewa 2 kamar. Tapi entah kenapa, saya enggan sekamar dengan adik saya (padahal sama-sama wanita), saya lebih suka sekamar dengan kakak saya.

Namun semua itu berubah. Hidup itu memang berputar, ya bergerak. Sekarang kakak saya sudah menikah, punya istri dan anak, keluarga baru, dan kehidupan baru. Pertemuan kami terbatas. Bahkan di tahun pertama dia menikah, pada saat lebaran, saya tidak bertemu sama sekali dengannya karena ia berlebaran dengan keluarga Istrinya. Saya teramat sangat kehilangan. Tapi sekali lagi, hidup itu berubah. bergerak. Seperti dia yang bergerak dan membangun kehidupan baru.

Biar bagaimanapun, sekalipun ia mempunyai keluarga baru, Saya tetaplah adiknya. Dan dia tetap satu-satunya kakak saya, yang pernah membuat hidup saya banyak berarti, dan berkontribusi dalam mempengaruhi kehidupan saya. Suatu saat nanti, ketika saya menikah dan punya anak, saya tetap akan menjadi seorang anak kecil. Sekalipun nanti saya menjadi ibu dari anak-anak saya, atau seorang Istri dari Suami saya, tetapi saya tetaplah seorang anak kecil. Anak kecil yang rindu bermain dengan kakaknya..

//

One thought on “He’s Just My Only One Brother

  1. kuliah 4tahun mah cuma dapet teori sm praktek doank, kagak akan dapet yg namanya koneksi, kagak akan dapet yg namanya pengalaman, kagak akan dapet yg namanya passion……..

    maen2 gih ke blog gw, hikaruakarui.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s