Bagian 1 — start with problem..

Februari 2012

Wiona sekali lagi menatap kucing kecil itu lekat-lekat. Ada rasa iba melihat kucing kecil itu terus merengek meminta makan. Tapi yang dipunya oleh Wiona hanya sepotong kue yang diambilnya dari dalam sekretariat. Kembali, Wiona membelai si bulu kucing kampung yang banyak goresan dimana-mana itu. Tubuhnya menggambarkan, meskipun badannya mungil, ia telah melewati begitu banyak rintangan di luar sana.

“Ayy.. Hayuk!! Mau pulang ga?” Tanya seorang pria yang sudah siap di atas motor dengan tas ransel di dadanya. Ia sudah mengenakan helm, lengkap dengan masker yang menutupi setengah wajahnya.

Wiona berpaling. Ia mulai memonyongkan bibirnya tanda ia tak kuasa melepas si kucing kecil tempatnya melepas lara. Dengan berat hati, Wiona-pun berdiri. “Dah emeng. Besok aku bawain ayam yah. Janji!!” Ungkapnya lirih.

Febri, pria di atas motor itu tersenyum kecil. Ia melihat Wiona bagaikan anak kecil yang sangat ingin bermain dengan binatang peliharaannya. Sebenarnya ada rasa tak tega melihat muka muram yang bertengger di wajah kekasihnya itu. Tapi angin dingin bandung makin malam, makin tidak bersahabat. Ia tak punya pilihan lain selain mengantar dengan cepat kekasihnya itu untuk pulang ke kosannya yang hangat.

“Besok kita cari kardus yah, kita bawa emengnya.” Ucap Febri menghibur kekasihnya yang muram itu.

“Tapi kasiaaaann ibunya ayy.. Nanti nyariin..” Balas Wiona dengan muka masam.

“Ya bawa aja ibunya. Daripada kasian kamunya.. Manyun terus kalo di ajak pulang. Hehee.” Raut wajah Febri yang hangat menghibur sedikit duka Wiona. Wiona hanya membalas dengan senyum simpul.

Febri paham betul favorit kekasihnya jika sedang keadaan stress seperti ini. Ia akan melampiaskannya pada binatang, dan kesukaannya adalah kucing. Karena Wiona percaya bahwa membelai atau mengelus-elus kucing dapat mengurangi tingkat stress yang di alami.

Dengan lunglai, Wiona menaiki motor yang sudah sedari tadi siap untuk mengantarnya kemanapun. Tanpa basa-basi, Febri langsung melajukan motornya dengan kecepatan standar. Di pinggangnya melingkar tangan mungil Wiona dengan lembut. Di genggamnya tangan Wiona, dan tanpa terasa, kepala Wiona sudah tertunduk di bahu Febri.

Febri tetap memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Meskipun ia tahu, isak tangis orang yang paling dicintainya tak terbendung lagi. Sekalipun di atas motor.

Febri masih membereskan kamar kosan Wiona ketika Wiona sudah tertidur pulas di atas kasur tipisnya. Kamarnya yang tidak terlalu besar, cukup nyaman untuk seorang Wiona yang jarang sekali ada di dalam kamarnya sendiri. Pantas kamarnya cukup berantakan. Karena si empunya kamar pun tidak terlalu peduli dengan keadaan kamarnya. Dilihatnya wajah mungil Wiona yang kelelahan. Seperti belum tidur selama berabad-abad. Mukanya yang seperti anak belasan tahun sebenarnya sedang merasakan beban yang berat, yang bahkan orang lain pun mungkin tak mampu untuk menerimanya.

Dibukanya buku catatan kampusnya, Febri hanya tertegun melihat betapa hebatnya kekasihnya itu. Ia menulis agenda untuk job  masing-masing divisi pada kegiatan ekspedisi yang saat ini mereka jalani. Beberapa memang tak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi Febri selalu merasa bahwa Wiona bukan hanya sekedar pacar yang sampai detik ini masih setia mendampinginya dengan sabar, melainkan wanita yang kuat dan tangguh untuk menjalankan segala cobaan dalam hidupnya.

Dengan perlahan, Febri menutup kembali catatan kuliah tersebut dan meletakkannya dengan lembuh di samping tempat tidur Wiona. Ia kembali memakai jaket, kaoskaki, dan bersiap untuk meninggalkan gadis kecil itu. Sebelum pergi, tak lupa ia mengecup bibir mungil pacarnya itu.

“Malam sayang.. Mimpi indah ya…” Gumam Febri lembut.

Pagi yang cerah sedikit membuat panas kamar Naga. Jendelanya yang besar membuat matahari masuk dengan leluasa tanpa perlu menunggu posisinya berada di atas kepala. Hal inilah yang sangat mengganggu tiap pagi Naga. Hobinya untuk bangun siang sangat tidak didukung oleh kosannya yang baru. Tapi untuk orangtuanya, yang memang memahami bagaimana Naga, kosan baru tentulah pilihan tepat untuk dirinya. Karena dengan begitu, mau tidak mau Naga akan menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa.

Menjadi mahasiswa teknik mesin dengan kapasitas otak sejarah, tentulah tidak mudah bagi seorang Naga. Kemauannya untuk kuliah di jurusan Sejarah dan Budaya harus dikurung dalam-dalam karena orangtuanya lebih menginginkan ia berdiri pada teknik. Berhubung naluri seorang pria adalah ngutak-ngatik mesin, jadilah ia memilih Teknik Mesin untuk bidang yang kali ini ia pelajari. Namun, minat tetaplah minat. Sampai kapanpun, ia tetap tertarik di bidang Sejarah dan Budaya. Wajar jika ia sedikit setengah hati menjalani masa-masa perkuliahan ini.

Dengan malas Naga membuka selimutnya yang telah membuatnya sedikit berkeringat. Ia mencari-cari Hpnya dan akhirnya bernafas lega ketika menemukannya di balik bantal. Dilihatnya layar Hp dan terkaget ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Sedangkan ia harus sudah duduk manis di kelas pukul 08.00 pagi.

Damn!!” Sungutnya. Tapi anehnya ia tidak lantas langsung beranjak dari kasurnya. Ia hanya mengusap-usap rambutnya yang sudah penuh ketombe, lalu kembali merebahkan badannya seolah-olah tak punya tenaga untuk beranjak lebih jauh.

Beberapa pesan singkat-pun telah menunggu untuk satu persatu di bacanya. Satu pesan dari teman sekelasnya, Zalen.

Naga di mn? Pak Romli udh msk! Ayo cus

Pesan singkat yang kedua, tetap dari Zalen. Kali ini lebih alay smsnya:

Nagaaaa.. Ayo dunkz banun..

Naga tersenyum geli. Bisa-bisanya ia pelihara spesies sejenis Zalen. Dari namanya saja orang-orang sudah mengernyitkan dahi ngeri, apalagi liat penampakannya. Pasti menyesal.

Tanpa membalas, Naga langsung membuka sms ketiga yang masuk secara berurutan. Kali ini dari sahabatnya, Wiona :

Naga, i need your help. Butuh tenaga buat bolak-balik DIRMAWA nih.

Naga tersenyum kecut. Pasti soal ekspedisi, pikirnya. Ia sangat ingin membantu Wiona untuk permasalahan perizinan ekspedisi. Tapi ia menunda untuk membalas. Ekspedisi sudah cukup menyita waktunya. Segala persiapan dari perizinan, dana, belum lagi pressure yang ia rasakan sebagai ketua angkatan sudah menguras isi otaknya, juga batin tentunya. Sms dari Wiona cukup membuatnya lunglai.

Pesan yang keempat dari yang ia tunggu dan sekaligus tak ingin dibacanya. Tania, kekasihnya:

Yaaaanngg, i need to talk with you TODAY. Hubungi aku kamu PUNYA WAKTU kapan. Be quick! Love you..

Naga sedikit memejamkan mata. Ia tak tahu harus membalas apa.

Hubungannya dengan Tania memang agak sedikit meruncing akhir-akhir ini. Semenjak perencanaan ekspedisi yang semakin rumit, waktunya dengan Tania-pun semakin sedikit untuk dihabiskan bersama. Maklumlah, beginilah pacaran dengan seorang aktifis kampus dan berbeda fakultas. Tentulah pertemuan menjadi hal yang sangat langka untuk mereka.

Tapi membahas hubungan di saat hidupnya sedang sulit, bukanlah takdir yang mudah dijalani untuk seorang Naga. Ia bersikukuh menghindari pertengkaran. Bukan ia lari dari kenyataan, atau tidak ingin sesegera mungkin menyelesaikannya. Yang ia butuhkan saat ini bukanlah masalah. Tapi dukungan, semangat, motivasi. Bukan tuduhan a-i-u-e-o yang ditudingkan padanya.

Akhirnya ia mengetik sms untuk seseorang :

Di mana? I need your help, to..

Sending, Wiona.

“Tinggal tunggu dari DIRMAWA beres, dan kita langsung bisa out cari sponsor.” Pernyataan Wiona membuat Naga lega. Setidaknya ia tidak harus repot-repot berurusan dengan orang-orang birokrat di kampus, untuk cari aman dalam menyelenggarakan kegiatan.

“Ada kuliah ga Na?” Tanya Naga, mencari situasi yang tepat untuk bercerita.

“Mmm..” Wiona melihat layar Hpnya, “masih setengah jam lagi. Ada apa lagi dengan tuan putrimu, pangeran kesiangan?” Tembak Wiona langsung ke akar masalah. Sudah lebih dari setahun ia mengenal sosok Naga. Basa-basi bukanlah pilihan yang tepat untuk seorang Naga mengawali cerita pada Wiona. Apalagi Wiona termasuk tipe orang yang ‘intinya’.

“Dia minta hari ini ngomong sama gue..” Naga bernada lesu.

“Trus? Ketakutan lo apa?” Tanya Wiona gamblang dengan tatapan mata tajam ke arah Naga.

Naga menghela nafas pendek. Ia tak berkata banyak selain balik menatap mata bulat Wiona. Naga selalu merasa damai ketika melihat pancaran mata Wiona, seolah-olah sahabat mungilnya itu adalah malaikat pembawa kitab, sehingga Naga tidak perlu tersesat.

“Naga.. Gue udah pernah bilang, jangan pernah ngehindar. Gue tau lo sayang banget sama Tania, tapi lo tuh ga cocok. Bukan karena kalian beda paham, bukan. Beda paham malah bagus. Tapi ada satu hal di antara kalian yang membuat paham kalian ga bisa saling kerjasama..” Wiona memegang punggung tangan Naga.

“Trus hubungan gue harus-“

“Ya ga harus putus. Lo masih punya beribu kesempatan untuk bicara baik-baik sama dia. Dan lo masih punya kesempatan untuk memahami pahamnya dia. Dengan begitu, dia juga akan coba memahami prinsip hidup lo. Ga harus ada yang berubah. Lo hanya perlu menyesuaikan.”

Naga tertegun. Dilihatnya tukang sapu kampusnya mengumpulkan daun-daun yang berjatuhan di halaman kampus rektoratnya. Ia bingung. Bingung bagaimana harus menjawab Wiona. Perkataan Wiona bukanlah solusi, tapi sedikit membuka pikirannya.

“Kalo lo masih sayang, ya lo berhak untuk perjuangin. Kalo lo udah ragu, mending balik kanan. Itu solusi gue.” Seakan Wiona bisa membaca pikiran Naga.

Lagi, helaan nafas pendek Naga terdengar. Wiona paham betul sahabatnya sedang galau gundah gulana, yang jelas, ia hanya bisa memberikan kata-kata, bukan sikap. Bukan porsinya untuk ikut campur urusan hati Naga. Meskipun ia mengenal bagaimana Tania.

“Oke Na, makasih ya. Ga tau hidup gue tanpa lo..” Naga mulai menggoda Wiona dengan gombalannya.

“Ah lebay banget. Hidup lo kayak sinetron yang ada elangnya tau ga. Dasar drama king!!” Jambakan lembut dari tangan kecil Wiona menyambar rambut gondrong Naga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s