Prolog..

Februari 2012

“Kalian yakin??”

Dihadapannya ada 8 orang duduk dengan raut wajah tegang, namun berusaha sebisa mungkin tetap tenang. Dibelakangnya berlayarkan materi-materi presentasi dengan sinar hasil biasan dari infokus yang ada di susut kiri mereka. Delapan orang berseragam itu tetap duduk dengan tegak, meski tulang-tulang mereka mulai merasa tidak rileks.

“Ini Rinjani lho. Tidak semua orang bisa mencapai kesana. Apalagi di organisasi kita ini. Bukan hanya biaya yang harus kalian pikirkan, tapi juga kuliah kalian. Berani kalian bolos 10 hari?”

Lagi-lagi pria dengan berpakaian kemeja bertanya kembali pada 8 orang dihadapannya sebagai penyaji dalam materi presentasi ini. Dengan lugas dan tegas, meskipun suara bergetar, salah seorang dari kedelapan orang itu menjawab, “Kami siap. Kami siap melaksanakan ekspedisi ini dengan segala konsekuensi yang akan kami terima kedepannya. Kami hanya ingin mencapai visi-misi organisasi, dan mengibarkan bendera Gandawesi di puncak sana..” Tuturnya tanpa terhambat.

Mendengar jawaban itu, sang penanya pun diam. Dia bukan kehabisan kata, melainkan ikut yakin dengan keyakinan dari salah satu penyaji. Ia pun melempar pandangan pada peserta presentasi yang lain, melihat satu persatu apakah masih ada yang tidak yakin dengan pernyataan tersebut.

“Saya sebenarnya yakin kalian bisa menjalankan ekspedisi ini, jika kalian kerjakan bersama-sama. Tapi kalau kerja tim tidak lagi bisa kalian andalkan, ya jangankan ke Rinjani, ke Tangkuban-pun saya pikir kalian tidak akan sanggup.” Pernyataan lantang keluar dari mulut audiens yang lain.

8 peserta di hadapan audiens saling pandang. Ada rasa ragu dalam raut wajah mereka satu sama lain. Tapi tidak ada yang berani bersuara. Hampir serentak dipikiran mereka, hanya satu, ingin cepat-cepat menyudahi presentasi perdana untuk ekspedisi yang mereka rencanakan.

Sebagai Anggota Muda dalam suatu organisasi MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam), ekspedisi merupakan kegiatan akhir dan pamungkas agar mereka bisa meraih nomor induk anggota, atau untuk bisa jadi Anggota Biasa dalam organisasi tersebut. Setelah setahun lebih mendapat masa bimbingan dalam berbagai aplikasi, giliran ekspedisi-lah yang menjadi penentu dari perjuangan mereka selama ini.

Lebih serunya lagi, kompleksitas masalah dalam menyelenggarakan ekspedisi bukanlah hal yang mudah untuk bisa diatasi. Banyak wejangan dari angkatan-angkatan sebelumnya, ekspedisi merupakan tantangan terberat Anggota Muda dalam masa pengambilan nomor induk anggota. Antara kuliah dan organisasi. Antara impian dan kenyataan. Antara tim dan individu. Antara prestasi dan kegagalan. Mereka harus menghadapi itu semua dalam persiapan menuju ekspedisi.

“Silahkan kalian lanjutkan. Kerjakan sebagaimana mestinya. Kami semua sepakat, kalian bisa melanjutkan proyek Ekspedisi Sasak Rinjani.”

Presentasi akhirnya berakhir dengan helaan nafas lega dari 8 orang yang akan menjalankan persiapan ekspedisi tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s