Best I Ever Had

“Life is like a roller coaster. It has its ups and downs. But its your choice to scream or enjoy the ride.”

Damn! That’s true!! Seringkali kita mengalami hal-hal menyenangkan yang kita ga pernah duga sekalipun, dan begitupun sebaliknya. Kita jg mengalami hal-hal yang menyakitkan, menyedihkan, bahkan menjatuhkan harga diri kita dihadapan orang lain dalam waktu yang tidak terduga. Tapi yaaaaa.. itulah hidup. Seperti pernyataan di atas, apakah kita mesti teriak?? Atau tertawa menikmatinya?? Dan kita harus memilih untuk mengekspresikannya..

Dan saya pernah mengalami masa-masa (sejauh ini) terburuk dalam hidup saya. Ketika semua orang menuduh saya SALAH ! Ga ada satupun yang RESPECT sama saya. Tapi tiba-tiba datanglah 2 malaikat tak bersayap dan tak rupawan.. Jreeeenngggg !! Lagi-lagi saya harus menyebut namanya sebagai bentuk apresiasi saya terhadap mereka.

Namanya Galih Yusuf Laksana dan Rizal Zaenal Muqodas. Mereka pria dan mereka homo (hahahaa… Bohong bohong). Saya kenal mereka karena sama-sama 1 angkatan dalam sebuah organisasi Pecinta Alam yang saya dan mereka ikuti di kampus. Kedekatan saya sudah luarrrrr biasa sama mereka. Dari travelling bersama, makan 1 bungkus bertiga, sampai tidur dikosan cuma bertiga sama 2 makhluk itu.

Saya sayang mereka layaknya seorang sahabat. Kami, (bersama 6 orang lainnya) pernah melaksanakan Pendidikan Dasar sebuah organisasi Mapala bersama-sama. Melaksanakan Masa Bimbingan sebagai anggota di Mapala itu juga bersama-sama. Ga ada yang aneh apabila kami sangat dekat. Yang anehnya, yaaa saya lebih respect ke mereka, dibanding kedua teman dan seorang mantan saya yang memang 1 angkatan dan 1 jurusan pula! Yap, sama Galih dan Rizal, kami memang beda jurusan. Saya jurusan Sipil, dan mereka berdua jurusan Mesin.

Saya merasa mereka berdua sangat care ketika saya punya masalah dengan pacar saya (mantan kalo sekarang, sih!) waktu itu. Cerita panjangnya, kami saling memutuskan hubungan yang telah kami bina selama 3 tahun lamanya karena permasalahan orang ketiga. Hampir semua teman-teman 1 sekelas (yg 1 jurusan) bahkan beberapa sahabat saya dengan gamblang menyalahkan saya. Sedikit demi sedikit menjauhi saya. Padahal mereka ga pernah tau keadaan yang sebenarnya.. Pada saat itu posisi saya cukup tertekan, karena kami putus lewat telepon, dan pada saat itu posisinya kami sedang KKN. Saya KKN di Banjaran, dan mantan saya itu di Garut.

Posisi saya yang bagai makan buah simalakama sangat tidak menyenangkan waktu itu. Saya butuh teman cerita yang TIDAK MENJUDGE saya.. Tapi yang memahami bagaimana saya. Cerita dengan teman KKN bukan jadi solusi. Karena kami baru mengenal beberapa hari. Jadi rasanya tidak mungkin cerita ke mereka. Lalu cerita ke sahabat-sahabat saya di kelas, yang sangat memahami hubungan kami (maklumlah, saya dan mantan saya itu pasangan yang fenomenal di kelas), mereka rata-rata menyalahkan saya. Karena mereka melihat dari sudut pandang mantan saya itu, tanpa sedikit-pun memandang kesakitan saya.

Tapi tidak untuk 2 orang (Galih dan Rizal) My SUPERDUPERHERO yang pernah datang sebelum bulan Ramadhan tiba. Mereka dengan tangan terbuka memeluk saya, memendamkan isak tangis yang keluar dari lubuk hati saya yang paling dalam. Mendengarkan dengan seksama, dan kembali memberikan harapan “bahwa mereka ada” untuk saya, meskipun banyak orang yang sudah tidak lagi peduli oleh isak tangis saya. Mereka bersedia berjauhan dengan wanita yg mereka cintai hanya demi menemani saya makan. Mereka adalah sahabat yang meskipun saya ada di ‘atas’ atau di ‘bawah’, mereka tetap ada untuk mendukung saya.

Well, kisah sedih saya memang tidak berlangsung lama. Mereka mengajarkan saya untuk move-on lebih cepat. Dengan move-on-nya saya, membuat mata hati orang-orang yang mengolok-olok saya waktu itu akhirnya terbuka. Dan pada klimaksnya, mereka tau kenyataan yang saya hadapi ketika mereka pergi meninggalkan saya.

Dan apresiasi terhebat jatuh pada 2 sahabat yang sampai saat ini setia dan tanpa lelah menemani kerewelan saya. Saya ga tau apa yang bisa saya berikan kepada mereka berdua. Tapi saya siap memberikan hati yang telah sembuh dari luka ini, kalau-kalau mereka membutuhkannya.

For my beloved best friends,

ket : (ki – ka) Galih Yusuf Laksana dan Rizal Zaenal Moqodas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s